Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individu


Persepsi penting bagi perilaku organisasi karena perlaku seseorang dapat dilihat dari persepsi orang tersebut mengenai realita yang ada, bukan realitas itu sendiri. Persepsi (perception) adalah sebuah proses seseorang dalam mengungkapkan pendapatnya mengenai suatu hal yang ada pada lingkungannya. Adanya persepsi seseorang akan suatu hal tentunya didorong oleh sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut dapat membentuk persepsi dan dapat pula merusak persepsi. Faktor-faktor tersebut ad pada tiga tempat : 1) Penilai, faktor-faktornya yaitu sikap, motif, minat, pengalaman, ekspektasi; 2) Situasi, faktor-faktornya yaitu waktu, latar kerja dan latar sosial; 3) Target, faktor-faktornya yaitu inovasi, pergerakan, suara, ukuran, latar belakang, proksimitas dan kesamaan.
Aplikasi konsep persepsi dalam perilaku organisasi dapat kita lihat dengan menggunakan teori atribusi. Teori atribusi adalah sebuah percobaan untuk menentukan apakah perilau seorang individu disebabkan dari internal atau eksternal. Perilaku yang disebabkan internal merupakn perilaku pribadi individu, sedangkan perilaku yang disebakan eksternal merupakan suatu situasi yang memaksa individu melakukan suatu hal. Penentuan perilaku ini tergantung pada tiga faktor : 1) Perbedaan, merujuk pada apakah seorang individu menampilkan perilaku yang berbeda pada situasi yang berbeda; 2) Konsesus, yaitu jika seorang individu memberikan respon yang sama pada situasi yang sama; 3) Konsistensi, merujuk pada apakah seseorang merespon dengan cara yang sama sepanjang waktu?.
Selain teori atribusi, kita juga dapat menggunakan jalan pintas untuk membuat penilaian mengenai orang lain. Jalan pintas ini biasanya membuat kita memunculkan persepsi secara akurat dengan cepat dan memberikan data yang valid. Jalan pintas-jalan pintas tersebut : a) Persepsi selektif, kecenderungan melihat secara selektif pada diri seseorang dalam basis minat, latar belakang, pengalaman dan sikap seseorang; b) Efek halo, kecenderungan menggambarkan impresi umum mengenai seseorang berdasarkan karakteristik tunggal; c) Efek kontras, evaluasi atas karakteristik seseorang dengan membandingkannya dengan orang lain; d) Stereotip, yaitu menilai seseorang berdasarkan persepsi mengenai kelompok asalnya.
Pengambilan keputusan individu merupakan bagian penting dari perilaku organisasi, namun cara individu dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh persepsi mereka. Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi atas masalah. Masalah sendiri adalah sebuah perbedaan antara situasi sekarang/ yang terjadi dan yang diinginkan, sedangkan keputusan merupakan pilihan yang dibuat dari dua atau lebih alternatif. Setiap keputusan membutuhkan kita untuk menginterpretasi dan mengevaluasi informasi. Dalam persepsi yang kita miliki kita dapat menentukan mana informasi yang relevan dan mana yang dipengaruhi oleh proses preseptual kita, kita perlu berhati-hati agar tidak membiaskan analisis dan kesimpulan.
Dalam perilaku organisasi, ada konsep pengambilan keputusan yang umumnya diterima oleh masing-masing individu untuk membuat determinasi. Meskipun prosesnya secara eksternal masuk akal, tidak menutup kemungkinan terjadinya keputusan yang lemah atau tidak akurat. Adapun model-model pengambilan keputusan dalam organisasi. Pertama, model pengambilan keputusan rasional, yaitu sebuah model pengambilan keputusan yang menjelaskan bagaimana individu seharusnya berperilaku untuk memaksimalkan hasil. Kedua, model pengambilan keputusan rasionalitas terbatas, yaitu proses pengambilan keputusan dengan membangun model yang disederhanakan tanpa menangkap semua kompleksitasnya. Ketiga, model intuisi, yaitu proses tanpa sadar yang diciptakan dari pengalaman yang diperoleh. Model intuisi ini masih diragukan oleh para peneliti dikarenakan intuisi sulit diukur dan dianalisis.
Dalam pengambilan keputusan tidak semua hasil akhirnya berjaln mulus sesuai rencana, adapula saatnya pengambilan keputusan berakhir dengan kesalahan. Ada beberapa bias yang dapat merusak pengambilan keputusan. Bias terlalu percaya diri, kecenderungan terlalu percaya diri dengan kemampuan dirinya dan kemampuan orang lain, bias ini biasanya terjadi tanpa kita sadari. Bias jangkar, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada informasi awal dan gagal menyesuaikan dengan informasi selanjutnya. Bias konfirmasi, yaitu kecenderngan untuk mencari informasi yang membenarkan pilihan-pilihan masa lampau dan untuk mengurangi informasi yang membenarkan penilaian masa lampau. Bias ketersediaan, yaitu kecenderungan orang untuk mendasarkan penilaian pada informasi yang siap tersedia bagi mereka. Eskalasi komitmen, yaitu komitmen yang meningkat pad sebuah keputusan sebelumnya meskipun adanya informsi negatif. Kesalahan acak, yaitu kecenderungan individu untuk percaya bahwa ia mampu memprediksi hasil dari peristiwa acak. Aversi risiko, kecenderungan untuk lebih memilih hasil yang pasti dari jumlah yang menengah daripada hasil yang lebih berisiko. Bias retrospeksi, yaitu kecenderungan yang salah dalam mempercayai, sesudah hasil dari peristiwa sebenarnya diketahui.
Selain perilaku individu, perbedaan individu dan batasan organisasi juga memengaruhi dalam pengambilan keputusan. Perbedaan individu dalam hal ini meliputi kepribadian, jenis kelamin, kemampuan mental dan perbedaan budaya. Batasan organisaso meliputi evaluasi kinerja, sistem imbalan, peraturan baku dan batasan waktu akibat sistem. Hal ini dikarenakan organsisai dapat membatasi pengambil keputusan menciptakan deviasi dari model rasional.
Pertimbangan etis juga menjadi salah satu kriteria penting dalam sebua pengambilan keputusan. Ada tiga cara untuk mengambil keputusan dengan etika. Pertama, utilitarianisme, yaitu sebuah sistem dimana keputusan-keputusan dibuat untuk memberikan yang terbaik dalam jumlah terbanyak. Kedua, membuat keputusan konsisten degan kebebasan dan hak-hak fundamental seperti yang tercantum dalam Piagam Hak Asasi, kriteria ini melindungi whistle-blower. Ketiga, menanamkan dan mendorong aturan-aturan dengan adil dan netral untuk memastikan keadilan atau distribusi yang merata atas manfaat dan biaya. Dengan mempertimbangkan kriteria etika ini, seorang pengambil keputusan akan menghadapi etika perilaku
Meskipun model keputusan rasional akan sering memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh seorang pengambil keutusan, mereka juga membutuhkan kreativitas atau kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yag inovatif dan berguna. Kreativitas melibatkan tiga tahap : sebab kreatif, perilaku kreatif dan hasil kreatif (inovasi). Ada dua hal yang menjadi penyebab perilaku kreatif, yaitu potensi kreatif dan lingkungan kreatif. Untuk memunculkan perilaku kreatif sendiri dibutuhkan empat langkah yang saling memengaruhi yaitu : 1) Formulasi masalah; 2) Pengumpulan informasi; 3) Pemunculan ide; 4) Evaluasi ide. Tahapan akhir dari model kreativitas adalah hasil. Namun perlu diingat bahwa perilaku kreatif tidak selalu menghasilkan hasil yang kreatif atau inovatif. Adapun faktor-faktor yang memunculkan ide-ide kreatif yaitu motivasi dan iklim organisasi.


Sumber : Perilaku Organisasi oleh Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge

Comments

Popular posts from this blog

Makalah Ta'limul Muta'allim " Memilih Ilmu, Guru dan Ketabahan dalam Menuntut ilmu "

Makalah Al-Qur'an " Konsekuensi Beriman Kepada Al-Qur'an "

Budaya Organisasi